kisah pernikahan nabi muhammad dengan siti khadijah Lengkap part 2

kisah pernikahan nabi muhammad dengan siti khadijah Lengkap part 2 - Pada bagian pertama telah diceritakan bahwa Khadijah mulai memendam pertanyaan-pertanyaan terhadap sosok Muhammad, sebenarnya Khadijah sudah berusaha untuk tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tapi semakin keras ia berusaha untuk melupakannya, semakin sering pula pikiran-pikiran tentang Muhammad muncul dalam kepalanya. Dan Khadijah merasa bahagia dengan semuanya itu.

Muncul lagi dalam benak Khadijah, apakah pikiran-pikirannya tersebut juga timbul dari rasa kagum yang sama seperti apa yang dirasakan oleh orang-orang Quraisy lainnya?

Khadijah ini dikenal dengan kecerdasan dan ketajaman dalam berpikirnya, ternyata kali ini ia tidak mampu mengatasi persoalan yang terkesan sangat sederhana ini.

kisah teladan sejarah pernikahan khadijah dengan nabi muhammad


Hingga pada puncak kebimbangannya, Khadijah pergi menemui sepupunya yang bernama Waraqah ibnu Naufal seseorang yang telah ceritakan sedikit pada artikel yang berjudul Cerita Singkat Tentang Siti Khadijah Istri Nabi Muhammad

Waraqah adalah pemeluk agama Nasrani yang tekun menyembah Tuhan, memperlajari kitab-kitab suci terdahulu dan menjauhi berhala.

Setelah Khadijah datang menemuinya dan mendengarkan semua cerita Khadijah, ada rasa bahagia yang dirasakan oleh Waraqah.

Ia bangkit lalu berkata pada Khadijah, berdasarkan kitab-kitab suci yang pernah dibacanya, Allah akan mengutus seorang rasul terakhir dari keturunan Isma'il yang akan lahir di dekat Baitullah.

Waraqah kemudian terdiam dan tampak berfikir mendalam lalu berkata, 

"Wahai Khadijah! bila benar apa yang aku pikirkan ini, Muhammad pastilah seorang nabi. Yang aku tau pasti tanpa keraguan, seorang nabi akan muncul dari bangsa ini. Dan sekaranglah saat kemunculannya."

Mereka terus berbincang-bincang hingga saat Khadijah akan berpamitan, Waraqah melantunkan sebuah syair:

Bertahan aku dengan ingatan
tentang sedih yang melahirkan jeritan
hingga engkau, Khadijah, datang kepadaku
Betapa lama, Khadijah, aku menunggu!


Seluruh kata-kata Waraqah menimbulkan kesan yang mendalam dalam hati Khadijah. Ia kembali memikirkan Muhammad, pemuda yang mengagumkan itu.

Khadijah juga berpikir apa sebenarnya yang menghubungan dirinya dengan Muhammad. Karena banyangan tentang Muhammad selalu muncul dalam hatinya tanpa ia kehendaki?

Banyak pinangan lelaki yang ditolak oleh Khadijah karena ia berpikir mereka hanya menghendaki harta dan status sosialnya saja.

Akan tetapi Muhammad jauh berbeda dengan mereka. Rasa hormat dan cinta kepadanya tumbuh perlahan hingga akhirnya mencengkram hati dan perasaan Khadijah.

Khadijah percaya sepenuhnya akan kebenaran perkataan Waraqah. 

Dan Khadijah pun sadar bahwa perasaan cinta yang timbul dalam hatinya adalah hal yang wajar bagi seorang wanita mulia yang mendambakan pendamping hidup yang dapat dipercaya.

Bahkan Khadijah juga meyakini bahwa rasa cintanya tersebut merupakan anugerah dari Tuhan kepada dirinya. Karena Tuhan menghendakinya untuk terlibat dalam rencana besarNya bagi umat manusia.
"Tapi pantaskah aku untuk menikah dengan Muhammad"
Perasaan itu sempat membuat Khadijah menjadi ragu. 

Selama ini ia telah menolak semua pinangan yang datang kepadanya dan lebih memilih hidup bersama anak-anaknya dan memusatkan perhatian dalam perdagangannya.

Bagaimana nanti perkataan para pemuka Quraisy jika mendengar Khadijah meminang seorang pemuda untuk dirinya sendiri?

Karena di dalam tradisi Arab, seorang wanita hanya boleh menunggu lamaran dari laki-laki.

Meskipun sempat ragu namun akhirnya Khadijah meluruskan niat dan memutuskan untuk menikah dengan Muhammad dan mengambil inisiatif untuk meminangnya.

Namun masih ada pertanyaan di dalam hatinya yang menganggu Khadijah. Siapakah yang dapat menjamin bahwa Muhammad akan menerima pinangannya?

Khadijah adalah wanita yang berstatus sosial tinggi, kaya, cantik dan terhormat. Ia masih memiliki pesona bagi banyak laki-laki.

Namun Khadijah sadar bahwa Muhammad bukanlah lelaki yang rakus dan mudah tergoda oleh hal-hal yang bersifat lahiriah.

Dan Muhammad tetaplah seorang pemuda yang memiliki haknya untuk mencintai seorang gadis yang sebaya dengan dirinya.

Maka dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, Khadijah mempersiapkan sebuah rencana.

Ia mengutus seorang wanita yang ia yakini kemampuan dan loyalitasnya untuk secara diam-diam melakukan pendekatan awal terhadap Muhammad.

Wanita yang dipilih untuk mengemban tugas tersebut adalah Nafisah binti Umayyah yang juga masih kerabat dekat Muhammad.

Nafisah kemudian mendatangi Muhammad dan menasehatinya seperti seorang ibu yang menasehati anaknya. Ia menerangkan pada Muhammad akan pentingnya menikah.

Muhammad menjawab bahwa dirinya adalah seorang yang miskin dan tidak memiliki apa-apa untuk nanti diberikan kepada istrinya.

Namun Nafisah kembali memberikan pengertian bahwa kemiskinan bukan sebuah halangan untuk dapat menikah. Dan lagi dengan pribadi baik Muhammad yang telah diketahui banyak orang Mekah.

Karena itu banyak orang tua tentu mengharapkan Muhammad datang untuk meminang putri mereka.

Setelah beberapa saat Nafisah mulai dapat meyakinkan Muhammad untuk menikah, barulah Nafisah menyatakan bahwa wanita yang paling pantas menjadi istrinya adalah Khadijah binti Khuwailid.

Alasan Nafisah sederhana saja, yaitu karena Khadijah adalah wanita yang cantik, baik nasab keturunannya, kaya, pandai menjaga kehormatan, dan luhur akhlaknya sehingga masyarakat menjulukinya "wanita suci".

Mendengaar perkataan Nafisah tersebut Muhammad menjadi terkejut, menurutnya Nafisah berlebihan.

Kemudian Muhammad berkata "Darimana aku akan mendapatkan harta untuk mahar menikah dengan Khadijah?"

Nafisah menjawab jika Muhammad setuju untuk menikah dengan Khadijah, maka urusan mahar tidak perlu ia pikirkan.

Proses diplomasi awal yang dilakukan Nafisah ini diceritakan dalam sebuah riwayat.

Ia berkata, "Khadijah pernah mengutusku sebagai perantara kepada Muhammad setelah ia pulang dari Syam. Kukatakan kepadanya, 'Apa yang menghalangimu untuk menikah?' Muhammad pun menjawab, 'Aku orang miskin yang tidak punya harta.' Lalu kukatakan kepadanya, 'Jika aku tanggung semua keperluanmu untuk menikah dan kupilihkan seorang wanita yang cantik, kaya, mulia, dan cocok untukmu, maukah engkau menikah?' Muhammad menjawab "Siapa wanita itu?' Aku menjawab, 'Khadijah.' Kemudian Muhammad kembali bertanya kepadaku, 'Bagaimana mungkin?' Kukatakan, 'Aku yang akan mengaturnya'."

Peran Nafisah sebagai pendekatan awal kepada Muhammad ini menjadi hal yang sangat penting bagi agama Islam dan umat muslim di dunia.

Karena banyak sekali riwayat yang menjelaskan bagaimana keutamaan Khadijah dalam kesuksesan Rasulullah pada masa awal-awal dakwahnya.

Sehingga siapapun yang membantu pernikahan mereka, adalah bagian yang sangat penting dalam proses penyebaran Islam ke seluruh dunia.

Setelah pertemuan Nafisah dengan Muhammad sebagai upaya awal untuk menjajaki kemungkinan Muhammad menerima pinangan Khadijah. Ia lalu menyampaikan semua hasil pendekatan tersebut kepada Khadijah.

Kemudian Khadijah mengundang Muhammad kembali ke kediamannya, lalu berkata kepada Muhammad

"Wahai anak pamanku, aku berhasrat untuk menikah denganmu atas dasar kekerabatan, kedudukanmu yang mulia, akhlakmu yang baik, integritas moralmu dan kejujuran perkataanmu."

Muhammad pun menerimanya.

Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Muhammad didampingi oleh bani Hasyim yang dipimpin oleh Abu Thalib dan Hamzah.

Sedangkan Khadijah didampingi oleh bani Asad yang dipimpin oleh Amr ibnu Asad.

Pidato pernikahan disampaikan oleh Abu Thalib.

"Segala puji bagi Allah yang telah melahirkan kita sebagai anak keturunan Ibrahim dan Ismail. Segala puji bagiNya yang telah menetapkan kita sebagai penjaga rumahNya dan pemelihara tanah suciNya. Dia yang menjadikan kediaman kita aman dan diziarahi banyak orang. Dia pula yang menjadikan kita berkuasa atas orang-orang. Keponakanku ini Muhammad ibnu Abdillah, tidak bisa dibandingkan dengan pemuda manapun, dia pasti mengungguli mereka. Hari ini Muhammad menikahi Khadijah binti Khuwailid, ini akan menjadi berita besar dan kehormatan yang agung."

Setelah selesai Abu Thalib menyampaikan kata-katanya, berdirilah Amr ibnu Asad, paman Khadijah dan pemimpin kaumnya.

Ia menyampaikan pujian bagi Muhammad dan mengumumkan pernikahannya dengan Khadijah. Dengan itu, resmilah pernikahan keduannya.

Beliau menikah di umur 25 tahun sedangkan Khadijah berumur 40 tahun

Mahar yang diberikan Muhammad kepada Khadijah adalah 20 ekor unta betina merah yang terbaik. Unta tersebut adalah unta yang paling mahal.

Harga paling murah untuk satu ekor unta tersebut, saat ini  kira-kira 35juta rupiah. Jadi jumlah maharnya kurang lebih adalah 700juta rupiah.

Beberapa ulama berkata mahar ini adalah bukti untuk menepis anggapan bahwa "Rasulullah Muhammad itu adalah orang miskin."

Inilah kisah pernikahan dua insan mulia yang membahagiakan. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan Khadijah binti Khuwailid Ummul Mukminin, seorang wanita yang kelak Allah pun mengirimkan salam untuknya.

Semoga kisah ini bermanfaat bagi yang membaca. Sehingga kita semua dimudahkan oleh Allah untuk mengidolakan Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam dan Khadijah Radiallahu Anha, dan dapat mengikuti jejak kehidupan mereka.

wallahu a'lam bishawab....

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "kisah pernikahan nabi muhammad dengan siti khadijah Lengkap part 2"

Post a Comment

Silahkan tulis komentar/pertanyaan kalian disini!