kisah pernikahan nabi muhammad dengan siti khadijah Lengkap part 1

Cahayanabi.com - Kisah Pernikahan nabi dan khadijah. Suatu hari, Khadijah mencari seseorang sebagai utusan kafilah dagangnya ke negri syam untuk mengawasi dan memimpin rombongan.

Menurut literatur sejarah dalam Islam "Syam" pada saat ini adalah Syria, Yordania, Lebanon dan Palestina. Negara-negara ini dulunya satu kesatuan yang disebut dengan Syam.

Orang-orang Mekah telah ramai membicarakan tentang pribadi Muhammad Ibnu Abdillah, seorang pemuda yang dapat menjaga kejujuran dan keluhuran budi di tengah teman-teman sebayanya yang sibuk berfoya-foya.

Pikiran Menghampiri Khadijah, kenapa tidak Muhammad saja yang aku jadikan utusan untuk menangani urusan perdaganganku di Syam?

Kejujuran, integritas, dan keluhuran budi pekerti Muhammad tidak diragukan, bahkan seluruh masyarakat Mekah pun telah mengetahuinya. Namun Khadijah tidak pernah mendengar pengalaman Muhammad dalam berdagang.

Kemudian Khadijah pun mengundang Muhammad untuk berbincang-bincang mengenai perdagangan.

sejarah dan biografi pernikahan khadijah dengan nabi muhammad

Pada pertemuan pertamanya Khadijah dapat menilai bahwa Muhammad merupakan pemuda yang pandai menjaga diri, santun, cerdas dan memiliki penampilan yang sempurna. Ia terlihat begitu berpengaruh saat berbicara, dan pada saat diam tampak begitu tenang...Shallallahu ala Muhammad

Ia mendengarkan dengan teliti, selalu memperhatikan dengan sabar, tidak pernah memotong pembicaraan dan selalu menunjukkan sikap bersungguh-sungguh.

Melihat perilaku tersebut, Khadijah yang sangat berpengalaman dalam perdagangan dengan mudah dapat memutuskan bahwa inilah orang yang ia cari. Lalu kemudian Khadijah berkata :
"Aku memanggilmu berdasarkan apa yang telah kudengar dari orang-orang mengenai perkataanmu yang jujur, akhlaqmu yang mulia dan integritasmu yang terpercaya. Aku telah memilihmu dan akan kubayar engkau dua kali lipat dari apa yang biasa diterima oleh orang lain."
Muhammad pun menerima amanah tugas tersebut dengan senang hati.

Khadijah mengamati gambaran fisik Muhammad. Posturnya tubuhnya sangat seimbang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, tidak terlalu gemuk dan tak pula terlalu kurus. Cara berjalannya menunjukkan rasa kepercayaan diri yang tinggi.

Kuat dalam ingatan Khadijah setelah pertemuannya dengan Muhammad. 

Tadi pada saat berbicara dengannya, Muhammad selalu menundukkan wajahnya, seingatnya hanya sekali Muhammad mengangkat wajahnya pada saat Khadijah memberikannya tugas menjalankan urusan perdagangan ke negri Syam.

Pada saat itu seingat Khadijah, Muhammad tersenyum, mengankat wajahnya sedikit dan mengucapkan terima kasih, lalu kembali menunduk.

Agak mengherankan mengapa Khadijah memperhatikan itu semua. Ketampanan dan kegagahan  Muhammad memang dapat memikat banyak orang. Tapi bukankan Khadijah memanggilnya untuk urusan bisnis?

Tampaknya Khadijah tertarik akan kepribadian pemuda ini. Begitu lembut keindahan yang terpancar dari wajahnya, dan begitu indah senyum tipis yang menghiasi wajahnya.

Setelah menerima tugas dari Khadijah. Muhammad lalu menuju kerumah pamannya Abu Thalib dan menceritakan tawaran kerja yang baru diterimanya.
Abu Thalib sangat gembira dan berkata, "Ini adalah rezeki yang Allah berikan kepadamu."

Hari Keberangkatan pun tiba, dalam eksepdisi dagang menuju Syam ini, Muhammad dibantu oleh seorang pegawai kepercayaan Khadijah yang bernama Maysarah.

Khadijah berpesan agar Maysarah mematuhi semua perintah Muhammad dan selalu menemani disisinya.

Tidak seperti pola berdagang para utusan Khadijah sebelumnya yaitu membawa modal Khadijah yang besar untuk dibelikan barang-barang di Syam kemudian dijual di Mekah.

Muhammad berinisiatif untuk membelanjakan uang Khadijah dengan produk-produk Mekah sebelum berangkat, sehingga sesampainya di Syam barang-barang dari Mekah ini dijual dan mendapatkan keuntungan.

Keuntungan berdagang di Syam tersebut kembali dibelanjakan berupa produk-produk untuk kemudian dijual kembali di Mekah. 

Dengan cara seperti ini maka keuntungan yang diperoleh kafilah Muhammad ini mendapatkan keuntungan dua kali lipat dari biasanya.

Setelah urusan perdagangan di Syam selesai dengan lancar, kafilah ini bergegas pulang kembali ke Mekah. Sesampainya di Mekah. Maysarah berkata kepada Muhammad:

"Pergilah kepada Khadijah! Ceritakanlah semua yang engkau alami dan keuntungan yang engkau peroleh dari perjalanan ini."

Pada siang itu Khadijah ditemani oleh beberapa wanita lain di sebuah ruangan bagian atas rumahnya. Ia dapat melihat di kejauhan kedatangan Muhammad menunggangi unta kecil berwarna merah dan ada dua malaikat menaunginya saat memasuki kota.

Para wanita disamping Khadijah terpana, betapa gagah Muhammad, betapa agung wibawa terpancar dari dalam dirinya, dari jauh ia terlihat sangat indah dan mengesankan.

Setelah bertemu dengan Khadijah, Muhammad melaporkan semua hal yang dialaminya dalam perjalanan, termasuk keuntungan besar yang diperolehnya di Syam.

Dan keuntungan tersebut telah digunakan untuk membeli barang-barang dari Syam dan telah berhasil dijual kembali di Mekah dengan keuntungan yang berlipat ganda.

Khadijah pun menerima laporan ini dengan gembira.

Di lain waktu Maysarah juga menghadap Khadijah dan menceritakan banyak kejadian aneh yang ditemuinya sepanjang perjalanan lalu.

Ia menyaksikan di siang hari yang panas, awan berkumpul untuk menaungi Muhammad saat menunggang unta di padang pasir.

Lalu di lain hari Muhammad melepas lelah di bawah pohon di dekat dengan kuil pendeta Nasrani bernama Nasthura. Pendeta itu lalu mendatangi dan bertanya kepada Maysarah, Siapa orang yang berteduh di bawah pohon itu?"

"Dia adalah seorang pemuda mulia dari Quraisy" jawab Maysarah.

Kemudian pendeta tersebut berkata,
"Tidak seorang pun berteduh di bawah pohon itu melainkan dia adalah seorang nabi"
Kemudian ada lagi pendeta Nasrani yang berbicara pada Muhammad dan memerintahnya untuk bersumpah dengan nama Lata dan Uzza.

Namun Muhammad menolak dan berkata, "Aku tidak pernah bersumpah dengan nama keduanya"

Pendeta ini lalu menjawab, "Engkau benar" lalu meninggalkannya dan berjalan menemui Maysarah lalu berkata, "Orang ini demi Tuhan, adalah seorang nabi."

Para pendeta kami telah menerangkan ciri-cirinya dengan sangat jelas dari kitab suci yang mereka baca selama ini.

Maysarah juga bercerita pada Khadijah tentang perilaku Muhammad selama dalam perjalanan yang menunjukkan keluhuran budi, kejujuran, kasih sayang dan kelembutan hatinya.

Khadijah mulai berfikir tentang semua cerita yang didengarnya. Seluruh penduduk Mekah pun kagum kepada Muhammad, hingga ia mendapatkan julukan al-amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya.

Jauh dalam lubuk hatinya, Khadijah pun mengakui bahwa Muhammad adalah pemuda yang nyaris sempurna.

Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dalam hati Khadijah. Perasaan apa yang ada di dalam hatinya?

Mengapa ia merasa kagum saat melihat Muhammad memasuki kota Mekah dengan untanya? Tidak salahkan pengelihatannya saat menyaksikan dari kejauhan ada dua malaikat yang menaungi Muhammad?

Perasaan gembira saat Muhammad mendapatkan keuntungan besar di Syam? apakah benar rasa itu muncul benar-benar hanya karena kabar keuntungan finansial yang didapatnya?

Bagaimana juga menyikapi cerita-cerita yang di katakan oleh Maysarah?

Hampir semua orang di Mekah mengetahui ramalan-ramalan dari para rahib mengenai darangnya seorang nabi dai jazirah Arab.Apakah Muhammad nabi yang di tunggu-tunggu itu?

Ekspedisi ke Syam yang lalu memang Muhammad memperoleh keuntungan besar yang belum pernah didapatkan oleh kafilah-kafilah sebelumnya.Apakah hal ini berhubungan dengan statusnya sebagai seorang nabi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus bermunculan didalam hati Khadijah?

Lalu apakah yang akan dilakukan Khadijah untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya tersebut, akan kami lanjutkan ke cerita selanjutnya yang berjudul kisah pernikahan nabi muhammad dengan siti khadijah Lengkap part 2 InsyaAllah...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "kisah pernikahan nabi muhammad dengan siti khadijah Lengkap part 1"

Post a Comment

Silahkan tulis komentar/pertanyaan kalian disini!